MENYOAL MOTIVASI KERJA 

Friday, 26 October 2007 

 

Merubah Kemalasan

Liburan panjang telah berlalu. Cuti bersama dalam rangka lebaran pun telah lewat. Hari Senin, tanggal 22 Oktober 2007 baik PNS maupun karyawan swasta semestinya sudah mulai giat dengan segala aktivitasnya. Namun di banyak kantor masih terdapat karyawan yang mangkir dengan berbagai alasan. Di kantor-kantor pemerintah, meski apel pagi berjalan dengan tertib, namun tidak sedikit selepas apel PNS hanya sekedar tanda tangan absen. Tidak tahu apa yang harus dikerjakan hari ini.

 

Banyak diantara mereka yang jalan-jalan ke pasar atau pulang lagi ke rumah. Menyusui anak atau memasak. Atau bahkan main gapley di kedai-kedai kopi. Bagaimana dengan produktivitas pegawai? Jangan ditanya soal ini. Data dari http://www.undp.org  kualitas Human Development Index (HDI) Indonesia tahun 2006 masih cukup menyedihkan. Berada pada tingkat 108. Hanya satu level diatas Vietnam.

 

 

Lantas mengapa ini semua terjadi? Mengapa motivasi kerja kita rendah? Sebagaimana diketahui, dewasa ini di tengah-tengah masyarakat  sedang   berlangsung krisis multidimensional. Kemalasan, kemiskinan, kebodohan, kedzaliman, penindasan, ketidakadilan di segala bidang, kemerosotan moral, sikap individualistik, peningkatan tindak kriminal dan dan berbagai bentuk penyakit sosial  telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.

 

Akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan, puluhan juta orang terpaksa hidup dalam kemiskinan dan puluhan lagi  kehilangan pekerjaan. Sementara itu jutaan anak harus putus sekolah dan jutaan lainnya mengalami malnutrisi. Hidup semakin tidak mudah dijalani, sekalipun untuk sekadar mencari sesuap nasi. Beban kehidupan bertambah berat seiring dengan kenaikan harga-harga akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan. Bagi mereka yang lemah iman,  kesulitan-kesulitan yang dihadapi itu dengan mudah mendorongnya untuk melakukan tindak kejahatan. Berbagai bentuk kriminalitas mulai dari perjudian, pencopetan, perampokan maupun pencurian dengan pemerasan serta  pembunuhan dan  tindak asusila, budaya permisif, pornografi dengan dalih kebutuhan ekonomi  terasa  semakin meningkat tajam. Di sisi lain, kestabilan politik belum juga kunjung terwujud.

 

Dalam keyakinan Islam, berbagai krisis tadi merupakan fasad (kerusakan) yang ditimbulkan oleh karena tindakan manusia sendiri. Ditegaskan oleh Allah dalam al-Qur’an surah ar-Rum ayat 41:

 

 

 

“Telah nyata kerusakan di daratan dan di lautan oleh karena tangan-tangan manusia”. (QS. Ar Rum: 41)

 

 

 

Dalam  kondisi seperti itu, bagaimanakah kita harus bersikap? Menjadi orang yang tetap optimis ataukah justru menjadi pesimis? Semuanya  tergantung pada sudut pandang mana yang  digunakan. Sikap pesimis akan muncul pada  orang-orang yang tidak mengetahui duduk masalah yang sebenarnya  atau apa yang sesungguhnya terjadi,  bagaimana dan dengan apa ia memecahkan masalah yang dihadapinya. Sementara, dengan mengetahui persoalannya dan memandangnya secara jernih disertai upaya terus menerus untuk mencari alternatif pemecahan, sikap optimis dapat dibangun dalam dirinya.

 

Mengenai pentingnya cara pandang terhadap persoalan dan sikap pribadi dalam menghadapi setiap masalah, Allah SWT memberikan menegaskan, bahwa  “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu suatu kaum, sehingga kaum tersebut mengubahnya sendiri” (QS. Ar Ra’du : 11). Artinya, bahwa berubah atau tidak keadaan seseorang termasuk menjadi pesimis atau optimis semua berpulang kepada yang bersangkutan. Inilah paradigma  paling penting yang harus dipegang oleh setiap orang ketika melihat dirinya dan lingkungannya. Bahwa seseorang harus merubah dirinya (cara atau pola berfikirnya), sebelum melakukan perubahan pada keadaan hidup diri dan masyarakatnya.

 

Inilah tugas manusia yang sesungguhnya. Selama ia melakukan sesuatu  dengan benar,  hasil bukanlah segalanya. Namun, sunnatullah telah menggariskan bahwa sesuatu yang benar dan dijalankan dengan benar akan memberikan hasil yang lebih baik. Fakta sering mengajari kita bahwa orang-orang yang sukses adalah mereka yang menapaki hidupnya dengan gigih, penuh daya kreasi dan motivasi. Kalau toh tetap gagal, itu hanyalah keberhasilan yang tertunda.  Maka alangkah bijaknya ungkapan yang menyatakan: Orang yang mencoba mengubah diri dan masyarakat namun gagal adalah lebih baik daripada orang yang enggan  mengubah dirinya sendiri. Jadi, setiap orang harus terus berubah. Menuju keadaan yang lebih baik. Hanya orang yang hari ini lebih baik dari hari sebelumnya saja, yang menurut Rasulullah, disebut beruntung. Kalau sama merugi. Kalau lebih jelek, celakalah orang itu.  Pertanyaannya, akankah seseorang  memiliki kehidupan yang lebih baik jika ia tidak pernah berupaya untuk mengubahnya?  Maka, sebuah syarat yang harus dilalui manusia yang menginginkan perbaikan adalah perubahan. Tidak ada perbaikan tanpa perubahan dan tidak ada perubahan tanpa motivasi dan upaya sungguh-sungguh untuk mengubahnya. Kalau pekan ini kita masih menyaksikan kemalasan di relung-relung kehidupan kita. Maka kemalasan itu harus dirubah dengan  etos kerja yang bagus, yang produktif, yang punya nilai (value). Kalau kita tidak merubah kultur malas ini, pasti kita tetap akan terpuruk dan terhina.

 

 

 

Memilih Motivasi yang Benar

 

    Motivasi merupakan dorongan untuk berbuat yang berasal dari dalam diri manusia. Motivasi dalam suatu perbuatan memegang peran sangat penting.  Kuat lemahnya upaya yang dikerahkan seseorang dalam mengerjakan  sesuatu  sangat ditentukan oleh motivasinya.  Oleh karena itu, mengetahui dan membina motivasi yang benar adalah suatu kemestian bagi siapa saja yang ingin meraih keberhasilan.

 

Motivasi yang mendorong manusia  untuk melakukan perbuatan menurut Prof Muhammad M Ismail dalam bukunya Al-fikru Al-Islamy dapat digolongkan menjadi tiga bagian, yakni:

 

(1)    Motivasi fisik – material.

Manusia terdorong untuk melakukan suatu perbuatan bisa karena keinginan untuk mendapatkan imbalan fisik material, misalnya dengan terpenuhinya  kebutuhan jasmani, baik berupa barang atau uang. Motivasi seperti ini sangat  lemah dan sifatnya sangat sementara.  Sangat pragmatis. Misalnya orang yang melakukan sesuatu untuk sekadar mendapat makanan guna  menutupi rasa lapar, maka ketika sudah kenyang ia akan kehilangan motivasi.  Sebaliknya, ia pasti akan kehilangan motivasi untuk melakukan perbuatan yang justru membuat ia lapar, misalnya berpuasa. Apalagi memperjuangkan suatu kebenaran, yang mungkin akan membuatnya menderita.  Jadi, motivasi fisik material sekalipun ada dan memang perlu, tapi sulit untuk dikembangkan untuk menjadi pendorong utama bagi manusia dalam berusaha.

 

(2)  Motivasi psiko-emosional

Motivasi psiko-emosional akan menggerakkan manusia untuk berbuat karena suatu kondisi kejiwaan yang ingin dimiliki seseorang ini seperti rasa kebahagiaan, kehormatan, kebanggaan dan sebagainya. Orang sering menyebutnya kepuasan batin. Misalnya, seseorang  berani  melakukan perlawanan keras terhadap orang yang dinilai telah merusak nama baiknya. Atau berjuang mati-matian dengan mempertaruhkan harta dan jiwa demi menjaga kemerdekaan. Ingin popularitas atau ksohor dan ngetop. Atau perti lakon film-film kungfu, balas dendam seringkali jadi motivasi perseteruan mereka. Dan sebagainya.  Motivasi ini meski lebih kuat bila dibandingkan dengan motivasi fisik – material, sebenarnya juga masih lemah dan sementara sifatnya.                                        

 

 (3) Motivasi spiritual atau ruhiyah

Inilah motivasi terkuat yang terdapat pada diri manusia. Motivasi ini dibangun oleh kesadaran seorang muslim dalam hubungannya dengan  Allah SWT. Dzat yang menciptakan manusia, menghidupkan, memberi rizki dan mematikan serta akan meminta pertanggungjawaban manusia atas segala perbuatannya di dunia.  Motivasi ibadah dan pertanggungan inilah yang mampu  mendorong manusia untuk melakukan perbuatan apa saja, meski harus mengorbankan harta, tenaga dan nyawa sekalipun, selama berjalan dalam batas  yang diperintahkan Allah SWT. Inilah konsep lillahi ta’ala (demi Allah semata). Bila ditanamkan, dibina dan dijaga dengan sebaik-baiknya,  motivasi ini akan mampu membentuk  pribadi yang konsisten, teguh dan berani. Pada masa Rasulullah, motivasi ini mampu menggetarkan musuh pada Perang Badar meski pasukan musuh berjumlah tiga kali lipat dari pasukan kaum Muslimin. Pada masa sekarang, kita dapati pada  pejabat yang jujur. Mereka berani menolak uang suap milyaran rupiah meski sesungguhnya dari segi materi uang sebanyak itu tentu sangat menggiurkan. Tapi keimanannya kepada Allah mencegahnya untuk berbuat seperti itu.

 

 

 

Maka, motivasi yang harus dibangun oleh setiap manusia dalam mewujudkan  aktivitas kehidupannya adalah motivasi spiritual semata. Dengan motivasi ini, seseorang akan terpacu untuk berikhtiar terus-menerus disertai dengan sikap tawakal  dan pantang berputus harapan hingga akhirnya meraih keberhasilan dengan izin Allah Yang Maha Pemurah lagi Penyayang.  Inilah motivasi berprestasi yang sesungguhnya.

 

Tujuan Perbuatan Manusia

Selain motivasi perbuatan, setiap manusia dituntut pula untuk mengetahui tujuan dari setiap perbuatannya, sehingga ia mampu menghasilkan sesuatu dengan baik. Tanpa adanya pemahaman tentang tujuan perbuatan itu, seseorang tidak akan dapat menentukan apakah ia berhasil  ataukah tidak. Manusia juga akan sangat mudah  terjebak untuk melakukan segala sesuatu hanya karena dasar materi belaka sebagaimana perilaku kebanyakan orang dalam era materialisme sekarang ini.

 

Nilai-nilai  yang dapat diraih manusia antara lain:

 

(1)    Nilai Materi.

Beberapa aktivitas manusia di antaranya memang akan memberi hasil berupa materi semisal uang dan harta kekayaan lainnya. Contohnya adalah bekerja. Dengan memahami bahwa bekerja adalah untuk memperoleh materi, maka seseorang akan mengarahkan usaha dagangnya untuk memperoleh keuntungan, usaha pertaniannya untuk memperoleh hasil panen yang baik, jika  bekerja untuk orang lain ia akan bekerja dengan sebaik-baiknya agar dapat menerima upah atau gaji dan sebagainya.

 

(2)    Nilai Kemanusiaan

Nilai ini  berupa layanan atau sikap baik manusia kepada sesama manusia. Misalnya,  membantu orang-orang yang kesulitan  materi, menyelamatkan orang yang tenggelam, dan sebagainya. Semua ini dilakukan semata karena unsur kemanusiaan dan bukan untuk memperoleh nilai materi.

 

(3)    Nilai psiko-emosional

Nilai akhlaq akan dicapai manakala dalam setiap perbuatan dihiasi dengan sifat-sifat (akhlaq) sesuai yang diperintahkan Allah SWT. Sikap jujur, amanah, peduli, menepati janji, sopan, tawadlu’ dan sebagainya merupakan sifat baik yang tidak memiliki nilai materi. Dengan kata lain, adalah tidak tepat jika seseorang menampakkan jujur dalam berdagang atau amanah dalam melakukan tugas karena ingin memperoleh keuntungan materi. Meski akhlaq juga berimplikasi positif terhadap perolehan nilai lainnya.

 

(4)    Nilai Spiritual

Nilai spiritual dicapai dengan tujuan agar (kesadaran) hubungan seseorang dengan Tuhannya dapat meningkat. Nilai ini bersifat pribadi, sebab hanya dia yang dapat merasakannya, orang lain tidak. Misalnya ketika orang melakukan shalat, membayar zakat,  berhaji dan sebagainya.

 

Bagaimana Seharusnya Manusia Berbuat ?

 

Sebagaimana telah diketahui, ketika menciptakan  manusia, Allah SWT melengkapinya dengan potensi-potensi kehidupan yang secara fitri akan mendorongnya untuk beraktifitas mewujudkan visi dan misi penciptaannya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya. Potensi kehidupan yang dimaksud berupa kebutuhan jasmani dan naluri.

 

Kebutuhan jasmani dapat berupa rasa lapar, haus dan keinginan buang hajat besar dan kecil, sementara naluri terdiri dari naluri beragama (gharizatu al-tadayun) yang perwujudannya berupa kecenderungan manusia untuk melakukan ibadah atau aktifitas mensucikan segala sesuatu yang dianggapnya besar; naluri  melangsungkan keturunan (gharizatu al nau’) dimana perwujudannya diantaranya berupa ketertarikan manusia kepada lawan jenisnya; dan naluri untuk mempertahankan diri (gharizatu al baqa’), yang salah satu wujudnya adalah keinginan manusia untuk menjadi pemimpin.

 

Kebutuhan jasmani dan naluri itu menghendaki pemenuhan. Perwujudannya melalui tindakan dan usaha manusia. Persoalannya kemudian adalah bagaimana cara manusia memuaskan semua kebutuhan jasmani dan naluri-naluri itu. Bagi seorang muslim, upaya memenuhi dan menyalurkan segenap potensi kehidupan itu semestinya senantiasa harus berlandaskan pada aturan-aturan syariat Allah.  Upaya pemenuhan i kebutuhan jasmani dan naluri dengan cara yang tidak sesuai dengan aturan Allah berarti  bertentangan dengan hakikat visi dan misi penciptaan manusia itu sendiri. 

 

Bila diperhatikan secara seksama, setiap manusia dalam melakukan setiap perbuatan akan  melewati tahapan berikut, yaitu

 

(1)    Berawal dari naluri atau kebutuhan jasmani,

 

(2)    Mengindera  dorongan yang muncul, berupa  naluri atau kebutuhan jasmani,

 

(3)    Menetapkan motivasi perbuatan,

 

(4)    Berfikir tentang cara  memenuhi dorongan dengan benar, baik dan sempurna sesuai dengan tuntunan  syariah,

 

(5)    Usaha apa yang diperlukan untuk memenuhi naluri dan/atau kebutuhan jasmani,

 

(6)    Berupaya mendapatkan nilai yang ingin dicapai.

 

 

 

Motivasi Berprestasi

 

Prof. Dr. David C. McClelland, psikolog  dari Universitas Harvard pada tahun 1961 merilis sebuah teori yang disebut motivasi berprestasi.  Teori ini bermakna suatu dorongan dalam diri seseorang untuk melakukan  suatu aktivitas dengan sebaik-baiknya agar mencapai prestasi dengan predikat terpuji. Dari penelitiannya – juga Murray (1957) serta Miller dan Gordon (1970) – dapat disimpulkan terdapatnya hubungan yang positif antara motivasi berprestasi dengan pencapaian prestasi. Artinya, manajer yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi cenderung memiliki prestasi kerja tinggi, dan sebaliknya  mereka yang prestasi kerjanya rendah dimungkinkan karena motivasi berprestasinya juga rendah.  Dan ternyata, motivasi berprestasi seseorang sangat berhubungan dengan dua faktor, yaitu tingkat kecerdasan (IQ) dan kepribadian.  Artinya, orang akan mempunyai motivasi berprestasi tinggi bila memiliki kecerdasan yang memadai dan kepribadian yang dewasa. Ia akan mampu mencapai prestasi maksimal. Hal ini karena ia didukung oleh dua kemampuan yang berasal dari  kedua faktor tersebut. IQ merupakan kemampuan potensi  dan kepribadian merupakan kemampuan seseorang untuk mengintegrasikan fungsi psiko-fisiknya yang sangat menentukan dirinya dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan.

 

Dalam kondisi faktual seperti sekarang ini, sesuai dengan  paradigma perubahan seperti telah dijelaskan di atas, maka harus dicetak “manusia-manusia pembangun” yang akan menggerakkan masyarakat ke arah perbaikan. Manusia pembangun adalah orang yang memiliki pengetahuan, keahlian dan ketrampilan dalam bidangnya, sekaligus memiliki mental pemimpin yang memotivasi proses perbaikan kelompok masyarakat di mana ia berada. Misalnya, dalam kelompok petani, kelompok wanita, kelompok remaja, perkumpulan guru-guru, perkumpulan rekan sekerja, kelompok mahasiswa, kelompok pelajar, atau yang lainnya. Ia memiliki kesadaran dan perhatian baik pada diri sendiri maupun orang lain dan memiliki motivasi untuk berprestasi.

 

Seorang pemimpin yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi memiliki  karakteristik, antara lain:

 

(1)    memiliki tanggung jawab pribadi yang tinggi;

 

(2)    memiliki program kerja berdasarkan rencana dan tujuan yang realistik serta berjuang untuk merealisasikannya;

 

(3)    memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan dan berani mengambil risiko yang dihadapinya;

(4)    melakukan  pekerjaan  yang  berarti  dan   menyelesaikannya  dengan   hasil   yang memuaskan;

 

(5)    mempunyai keinginan menjadi orang terkemuka yang menguasai bidang tertentu.

 

Sebaliknya pemimpin yang motif berprestasinya rendah, dicirikan oleh sejumlah hal berikut :

 

(1)    kurang memiliki tanggung jawab pribadi dalam mengerjakan suatu aktivitas;

(2)    memiliki program kerja tetapi tidak didasarkan pada rencana dan tujuan yang realistik serta lemah rnelaksanakannya;

 

(3)    bersikap apatis dan tidak percaya diri;

 

(4)    ragu-ragu dalam mengambil keputusan;

 

(5)    tindakannya kurang terarah pada tujuan.

 

 

 

Transformasi sosial hanya dapat digalakkan oleh manusia-manusia yang memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungannya. Antara lain, ia harus mengenali diri sendiri dengan baik, dapat menerima dirinya sendiri dengan segala kelemahan dan keunggulan, dapat menerima orang lain sebagaimana adanya, tidak mudah terpengaruh, tidak mencari keuntungan untuk dirinya sendiri, tetapi memikirkan kepentingan kelompok atau masyarakat umum.

 

Kelompok yang berfungsi dengan baik maksudnya adalah adanya satu kelompok yang anggotanya mempunyai motivasi yang jelas, yang bekerja secara terkoordinasi, terarah, dan teratur, dan yang tidak terhambat oleh emosi, masalah-masalah pribadi atau masalah interaksi. Modal sosial (social capital) kelompok ini musti bagus. Kelompok ini memperhatikan tugasnya maupun manusianya. Karena dalam kehidupan sehari-hari, yang sering terjadi adalah adanya masalah pada diri  manusianya yang mengakibatkan tugas kelompok terganggu.

 

Di samping mempunyai sifat seperti dijelaskan di atas, penggerak masyarakat diharapkan supaya:

 

(1)    dapat mengatasi perselisihan;

 

(2)    dapat mengambil keputusan dengan cepat dan tepat;

 

(3)    dapat berpikir kreatif untuk mendorong dan merangsang orang lain;

 

(4)    dapat merencanakan sesuatu dengan orang lain;

 

(5)    mampu berunding dan bekerja sama dengan siapa pun;

 

(6)    dapat   mengurangi   hambatan   untuk   bekerja   sama   di   dalam kelompok tempat ia bekerja;

 

(7)    dapat mengamati dan menangkap proses serta perkembangan di dalam kelompok;

 

(8)    dapat berkomunikasi dengan jelas dan efektif;

 

(9)    bersedia untuk memberi dan menerima umpan-balik (feed-back);

 

(10)    bersedia  untuk  membagi  pengetahuannya;

 

(11)    menganggap orang lain sebagai partner yang berhak sama, bukan sebagai anak buah (berdiri sama tinggi, duduk sama rendah).

 

 

 

Penutup

Kemalasan hanya akan mendatangkan penyesalan. Semangat bekerja, profesional dan trust (amanah) adalah kunci mencegah penyesalan. Oleh karena itu motivasi kerja harus dibangun dengan tepat, agar tidak pragmatis dan rapuh.  Perubahan harus dimulai dari sekarang. Gunakan waktu sebaik mungkin. Di bulan Syawal ini adalah momentum tepat untuk melejitkan prestasi. Optimisme harus ditanamkan kuat di dalam dada. Bukankah syawal artinya peningkatan? Peningkatan prestasi dunia dan akhirat. Dengan upaya ini, insya Allah sedikit demi sedikit kita semua akan mengalami kemajuan. Oleh karena itu, inilah saatnya untuk mengatakan “Jika kita berfikir bisa maka Insya Allah akan bisa”. Wallahu a’lam bish shawab

 

 

(by Muhammadun : Widyaswara Dephut Prop. Riau/Ketua DPD I HTI Riau)