Mengarahkan Opini Umum di Dunia Islam

Disajikan oleh Muhammad Nuzul Fuad

Orang yang mendalami realitas umat dan masyarakat di Dunia Islam saat ini akan mendapatkan bahwa para pengemban dakwah Islam telah berhasil—alhamdulillah dengan taufik-Nya—membentuk opini umum (ra’yul ‘am) mengenai Islam pada diri  umat Islam yang lahir dari kesadaran umum (wa’yul ‘am). Hanya saja, aktivitas mengubah masyarakat di negeri-negeri Muslim ke arah masyarakat Islam mengharuskan para pengemban dakwah untuk secara langsung berupaya mewujudkan revolusi perasaan (al-inqilãb asy-syu’uri), di samping revolusi pemikiran (al-inqilâb al-fikri) yang telah cukup berhasil diwujudkan di tengah-tengah masyarakat saat ini. Upaya mewujudkan revolusi perasaan tersebut ditujukan dalam rangka mewujudkan revolusi politic (al-inqilâb as-siyãsi) secara alami dan pasti—dengan izin Allah.

 

Usaha untuk mewujudkan revolusi perasaan sangatlah diperlukan pasalnya, revolusi pemikiran yang dapat disaksikan di Dunia Islam sejak pertengahan tahun 70-an ternyata tidak secara otomatis melahirkan revolusi perasaan, karena masyarakat di Dunia Islam masih berada di bawah tekanan situasi dan kondisi yang tidak normal dan dipaksakan. Akibatnya, revolusi politik yang menjadi sasaran para pengemban dakwah tidak pernah terwujud secara alami.

 

Oleh karena itu, opini umum yang lahir dari kesadaran umum ternyata sampai saat ini belum menghasilkan atau mengantarkan lahirnya sikap umat Islam untuk memilih dan menetapkan problem utama mereka (qadhiyah mashiriyah). Kesadaran umum ini belum menghasilkan atau mengantarkan munculnya kepemimpinan umat bagi para pengemban dakwah dalam perjuangannya untuk memecahkan problem utama mereka.

Sebenarnya, kepemimpinan umat bagi para pengemban dakwah untuk memecahkan problem utama Islam mengharuskan adanya pengikatan dan penggabungan antara Islam sebagal ideologi—yakni akidah yang mernancarkan peraturan untuk memecahkan seluruh problem kehidupan—-dengan potensi kehidupan (ath thâqah al-hayawiyyah) yang akan membuat umat bergerak. Dengan begitu, mereka akan terdorong untuk menuntut pemenuhan potensi kehidupan tersebut. Pada gilirannya, umat Islam bergerak—baik dengan perkataan maupun perbuatan—untuk mendapatkan pemenuhan potensi kehidupan tersebut dalam bentuk yang diharuskan oleh Islam. Hal ini berarti harus terdapat gerakan massa untuk melakukan berbagai aktivitas yang bertujuan untuk menerapkan Islam dalam realitas kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Inilah yang harus dipahami pada saat kita membicarakan realitas yang ada pada umat dan masyarakat di Dunia Islam saat ini.

 

Tujuan dari kajian realitas tersebut tidak lain adalah untuk membatasi jenis aktivitas dalam upaya merealisasikan tujuan. Agar hasil yang telah ditetapkan dapat tercapai, kita wajib mengikuti suatu kaidah dalam beraktivitas, yaitu: aktivitas harus dibangun di atas dasar pemikiran yang dihasilkan dari proses penyerapan realitas. Aktivitas semacam ini pun harus mempunyai tujuan tertentu. Mengingat strategi dan taktik (uslub) itu ditetapkan oleh jenis aktivitasnya, maka jenis aktivitas, strategi, dan taktik yang dijalankan akan senantiasa berubah-ubah sesuai dengan perubahan realitas dan tujuan.

Atas dasar itu, pemahaman terhadap realitas dan penentuan tujuan merupakan masalah yang penting dan sangat diperlukan untuk menentukan jenis aktivitas, sekaligus untuk merancang strategi dan taktik dakwah.

 

 

 

Makna Opini Umum

 

Yang dimaksud dengan ungkapan, “Opini umum yang lahir dari kesadaran umum,” sesungguhnya mempunyai maksud tertentu yang harus disadari sebaik-baiknya. Pasalnya, ungkapan tersebut telah banyak menimbulkan kerancuan pada banyak orang, misalnya, menggambarkan opini umum sebagai “aktivitas umum” atau “tindakan massa”.  Mereka menganggap, opini umum merupakan kedisiplinan atas sikap konsisten sekumpulan orang dalam melaksanakan Islam. Padahal, yang dimaksud dengan opini umum sebenarnya adalah kenyataan bahwa umat secara keseluruhan sudah merasakan betapa pentingnya berhukum pada hukum Islam. Umat pun merasa terdorong untuk bersikap demikian bukan karena dorongan perasaan (emosi) sesaat atau semangat yang temporal, melainkan karena telah sadar bahwa kehidupan dan loyalitas mereka memang wajib diberikan kepada Islam semata.  Ini tidak berarti bahwa umat harus secara serta-merta langsung menerapkan seluruh hukum syariat atas diri mereka. Akan tetapi, yang dimaksud adalah bahwa loyalitas umat hanyalah diberikan pada Islam. bukan pada yang lain. Loyalitas ini tentu tidak akan tampak pengaruhnya dan dapat dirasakan dalam kehidupan praktis, kecuali dengan penerapan hukun-hukum syariat.

 

Bukti-bukti adanya opini umum di tengah-tengah umat

 

Ada sejumlah bukti, isyarat, dan realitas yang dapat dirasakan, yang semuanya menunjukkan fakta bahwa opini umum yang lahir dari kesadaran umum telah benar-benar mewujud di tengah-tengah umat dan masyarakat di Dunia Islam. Sejumlah bukti, isyarat, dan realitas yang dimaksud adalah sebagai berikut:

 

1. Umat Islam di seluruh penjuru dunia telah bersiap menyongsong hadirnya kembali Islam sebagai peraturan yang memecahkan seluruh problem kehidupan.

 

Kaum Muslim di seluruh negeri-negeri Islam—bahkan di seluruh dunia—telah menyongsong kembalinya Khilafah dan kembalinya Islam dalam sistem pemerintahan dan negara. Fakta yang secara jelas menunjukkan adanya kenyataan di atas adalah sikap umat Islam seluruhnya terhadap revolusi yang mengangkat slogan-slogan perubahan atas dasar Islam di Iran pada tahun 1979, sikap mereka terhadap referendum mengenai konstitusi Mesir pada tahun 1980, kemudian sikap mereka terhadap pemilihan umum yang diselenggarakan di Yordania pada tahun 1989, di Aljazair pada tahun 1990, di Palestina pada tahun 2006 dan di Turki yang akan berlangsung pada tahun 2007 ini.

 

Realitas-realitas di atas juga telah menunjukkan betapa umat Islam seluruhnya telah menyadari bahwa sistem-sistern politik yang dipaksakan atas mereka tidak ada kaitannya sama sekali dengan Islam.

 

Parameter yang menjadi petunjuk adanya kesadaran tersebut adalah kenyataan bahwa sejumlah realitas dan fenomena tersebut—yang kami sebutkan hanya sebagai contoh—telah menunjukkan adanya perubahan pemikiran dan politik terhadap fakta kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Islam, dalam hal ini, telah menjadi slogan-slogan perubahan tersebut.

 

Sikap umat terhadap sejumlah realitas dan kejadian di atas berbeda—dari segi penunjukannya— dengan sejumlah peristiwa yang menyinggung naluri beragama dari kaum Muslim seperti perusakan masjid, pelecehan Islam, penghinaan kepada Rasulullah saw, dan kejadian-kejadian lain yang menyinggung perasaan umat sehingga mereka terdorong untuk mengambil suatu sikap.

 

Oleh karenanya, kita dapat menyatakan bahwa akidah sekularisme, yang memisahkan agama dan kehidupan, tidak lagi mendominasi benak kaum Muslim dan tidak lagi mengendalikan pandangan mereka pada batas yang diharuskan oleh realitas kehidupan bermasyarakat dan bernegara dalam sebuah sistem kehidupan sekuler.

 

2. Akidah Islam telah menjadi dasar hukum dan standar pemikiran bagi kaum Muslim.

 

Di antara isyarat yang menunjukkan kenyataan di atas adalah fakta bahwa, upaya untuk memasarkan berbagai hukum dan pemikiran kufur di negeri-negeri Islam tidaklah akan berhasil jika hukum dan pemikiran tersehut tidak diberi label Islam; juga jika hukum dan pemikiran kufur itu tidak dijajakan oleh tokoh-tokoh Islam yang zuhud, meskipun pada faktanya mereka telah menjual agamanya dengan harga murah. Ide demokrasi, misalnya. saat ini di negeri-negeri Islam tidaklah dijajakan dengan slogan “Berikanlah apa yang menjadi milik kaisar kepada kaisar, dan apa yang menjadi milik Tuhan kepadu Tuhan”. (Matius 22: 21). Demokrasi juga tidak diberi makna bahwa pembuat hukum adalah manusia dan bukan  Allah Swt, Sebaliknya, demokrasi telah dijajakan dengan pengertian bahwa ía mampu menghilangkan hukum–hukum otoriter yang dipaksakan oleh rejim-rejim pemerintahan militer yang memperbudak kaum Muslim. dan ia identik syura (musyawarah).

 

Atas dasar penjelasan di atas, propaganda untuk menjajakan dan memasarkan demokrasi di negeri-negeri Islam sesungguhnya dilakukan dengan cara menyodorkan jargonnya semata, sembari menghilangkan makna hakikinya. Akibatnya, penerimaan kaum Muslim terhadap demokrasi—jika ini memang ada— sesungguhnya hanyalah penerimaan jargonnya saja yang kemudian dikaitkan dengan pengertian yang bersifat islami (syura), bukan yang lain.

 

Dalam hubungan ini, ada baiknya  dipahami bahwa perang pemikiran dan peerang kebudayaan yang dilancarkan barat atas negeri-negeri Islam, sebenarnya telah berlangsung dalam tiga periode.

 

Pertama, periode yang bermula pada saat umat Islam telah merosot dari kondisi kebangkitannya dan mulai memasuki kondisi kemunduran, dalam periode ini, Barat yang kafir telah melabeli berbagai  pemikiran dan hukum-hukumnya dengan label  Islam, sehingga kaum muslim akhirnya mau menerimanya. Hal ini terjadi karena sebenarnya kaum muslim senantiasa berpegang teguh pada Islam  dan memandang Islam sebagai  aqidah yang melahirkan  peraturan yang dapat memecahkan seluruh persoalan kehidupan.

 

Kedua, periode ketika kaum Muslim telah benar-benar merosot dan berada dalam kondisi keterbelakangan pemikiran dan kemunduran politik. Pada periode ini, Barat yang kafir berupaya untuk meragukan kaum Muslim terhadap kelayakan syariat mereka dalam menghadapi tantangan zaman. Barat juga berupaya untuk “merias”‘atau ‘membagus-baguskan” peradaban mereka. Akibatnya, berbagai pemikiran dan pemahaman tentang kehidupan dan Barat benar-benar dapat mendominasi kaum Muslim secara total.

 

Ketiga, periode ketika kaum Muslim mulai menampilkan wajah perubahan dalam arah opini umum, ini adalah hasil dari revolusi pemikiran yang telah ditunjukkan oleh masyarakat di Dunia Islam, Dalam periode ini, Barat yang kafir berusaha kembali menggunakan teknik yang pertama kali digunakannya untuk menyerang Dunia Islam dalam bidang pemikiran dan kebudayaan. Dengan begitu, Barat telah berhenti pada tempatnya ketika memulai. Hanya saja, dalam periode ini, Barat akan berhenti pada tempat ketika dia tidak akan mampu memulai lagi, dengan seizin Allah. Jadi, dalam periode pertama dulu, kaum Muslim memang berada dalam kondisi yang tengah merosot. Sebaliknya sekarang, kaum Muslim akan mampu menghadapi serangan Barat dan akan terus menempuh jalan mendaki untuk mencapai puncak kemajuan dan kebangkitan.

 

Oleh sebab itu, perlawanan yang ditempuh oleh para pengemban dakwah dalam menghadapi surutnya Barat dalam medan pergolakan pemikiran tersebut tidak lagi sekadar melalui jalan memisahkan istilah-istilah Barat yang kafir dari istilah-istilah islami, melainkan juga melalui jalan mengajak dan membimbing umat lslam—secara keseluruhan sebagai satu kesatuan—untuk turut memikul tanggung jawab agar mereka ikut terjun dalam pergolakan melawan berbagai peraturan dan pemikiran kufur. Dengan begitu, negeri-negeri Islam akan kembali bersih dari segala dominasi dan pengaruh Barat yang kafir.

 

3. Masyarakat di Dunia Islam seluruhnya adalah satu masyarakat dan akidah Islam merupakan pengikat yang menghimpun mereka sebagai satu kesatuan.

 

Dalam kondisi kemerosotan yang meliputi umat islam, Barat dapat memporak-porandakan ikatan ukhuwah Islamiyah yang ada di antara negeri-negeri Muslim, lalu menggantikannya dengan ikatan nasionalisme dan ikatan patriotisme. Bahkan, barat juga dapat merontokkan ikatan ukhuwah Islamiyah dalam satu negeri dan satu bangsa. kemudian rnenggantikannya dengan ikatan yang disebut dengan patriotisme.

Namun demikian, dengan keberhasilan para pengemban dakwah dalam mewujudkan revolusi pemikiran—sebagai suatu strategi untuk membangkitkan umat di seluruh Dunia Islam—ternyata terbukti bahwa umat ini sesungguhnya masih merupakan satu kesatuan, sekalipun secara politis negeri-negeri mereka terpisah pisah (suatu hal yang memang direkayasa oleh Barat yang kafir) dan Barat terus berusaha mengendalilkan umat Islam agar tetap terpecah belah berdasarkan semangat nasionalisme dan patriotismenya masing-masing.

 

Mantan Presiden Amerika, Richard Nixon, dalam bukunya, America and The Hystorical Chance, yang terbit tahun 1992, mensinyalir pandangan Barat terhadap umat Islam, yang dalam hal ini akan memperkuat fakta di atas. Dia mengatakan demikian :

Hanya ada dua hal saja yang berpengaruh di Dunia Islam (1) Agamanya (2) Gejolak politiknya, Dalam hal ini, Islam bukan hanya sekadar agama ritual belaka, tetapi lebih merupakan landasan bagi sebuah peradaban yang besar. Kita melihat Dunia Islam yang demikian menyatu bukan karena mereka memiliki satu pusat pemerintahan yang mengontrol langkah-langkah politiknya, melainkan karena bangsa-bangsa di masing-masing negeri Islam selalu bersatu dalam menggalang kekuatan politik dan kebudayaan  berdasarkan peradaban islam. Karena itulah, setiap muncul gejolak politik di suatu negeri Islam, dengan latar belakang apapun,  segera saja negeri-negeri Islam lainnya menyingkirkan perbedaan-perbedaan yang ada dan menyatu dibalik kepentingan Islam. Rasa kebersamaan membela kepentingan dan juga politik telah memberi inspirasi, sekalipun tidak selalu kuat, yana tampak secara pasti. Begitu  terjadi satu kasus basar di suatu negeri di Dunia Islam, segera terdengar gaungnya di negeri-negeri Islam lainnya.

 

Pernyataan Nixon sangat beralasan, Sebagai contoh. pada tahun 1979, hampir seluruh pandangan kaum muslim di semua penjuru dunia terfokus pada Revolusi Iran yang mengangkat slogan, “perubahan atas dasar Islam”. Seluruh kaum Muslim saat itu merasakan betapa momentum itu dianggap sabagai langkah awal adanya perubahan , yakni, awal dari upaya untuk melepaskan diri dari belenggu sistem kufur yang dipaksakan atas mereka. Kaum Muslim segera memfokuskan perhatiannya pada revolusi itu karena melihat dikibarkannya panji-panji jihad untuk membebaskan Palestina dari cengkraman Yahudi.

 

Lalu ikatan apakah sebenarnya yang terdapat antara Iran berikut revolusinya dan kaum Muslim secara keseluruhan ? Apakah  sesungguhnya yang ditunggu kaum muslim di negerinya pasca revolusi Iran ? Benarkah hal itu karena ikatan patriotisme dan nasionalisme ataukah karena semangat Islam yang menyatukan umat ini sebagai satu kesatuan, yang berbeda dengan manusia lainnya.

 

Rasa kebersamaan kaum Muslim pun dibuktikan kembali ketika pecah Perang Teluk II tahun 1990 dan III tahun 2005. Saat itu, seluruh kaum Muslim berpihak pada Irak dalam peperangan keji yang sengaja diciptakan oleh negara-negara Barat yang kafir di bawah pimpinan Amerika Serikat, musuh Islam dan kaum Muslim. Memang benar, umat Islam tidak ikut terjun langsung dalam kancah perang yang secara real akan sangat menolong Irak. Hal ini disebabkan oleh situasi dan kondisi yang tidak normal yang sengaja diciptakan di kawasan Teluk, di samping karena faktor bahwa yang berkuasa di Irak adalah rejim Ba’ats dan adanya strategi tertentu dari rejim Ba’ats dalam melangsungkan krisis/perang tersebut. Oleh karena itu, perlu ditunjukkan sisi-sisi lain dan sikap umat Islam secara umum terhadap Perang Teluk ini untuk mengetahui sikap umat yang sebenarnya. Sisi-sisi tersebut antara lain:

 

1) Adanya demonstrasi secara besar-besaran yang tersebar di negeri-negeri Islam, baik di negeri-negeri Arab maupun negeri-negeri Islam lainnya, yang semuanya menuntut pemerintah mereka masing-mnasing untuk ikut terjun dalam kancah peperangan. Ternyata, slogan jihadlah yang menjadi materi utama pengerah demonstrasi-demonstrasi tersebut. Demonstrasi-dernonstrasi tersebut bisa dijumpai mulai dari Bangladesh, Turki, dan Iran; sebagaimana bisa dijumpai pula di Mesir, Yordania, Maroko, bahkan Indonesia dan negeri-negeri Islam lainnya.

 

2) Berbagai konferensi, seminar, ceramah, khuthbah Jumat, serta tablig akbar hampir semuanya menuntut pemerintahnya masing-masing untuk mengambil langkah-langkah real dengan melibatkan diri ke kancah perang dan mengumumkan jihad.

 

3) Munculnya ratusan ribu sukarelawan dan putra-putri kaum Muslim yang tangguh, yang telah menyatakan siap diberangkatkan guna melaksanakan oparasi-operasi mati syahid untuk melawan serangan-serangan Barat.

 

4) Mengalirnya bantuan, dengan segala macam bentuknya dan dengan apa pun cara dan jalannya, kepada pihak Irak dan penduduknya.

 

Dengan demikian, Perang Teluk sesungguhnya telah membuktikan bahwa umat Islam adalah umat yang satu. Merekalah sesungguhnya yang layak disebut sebagai umat jihad dan umat yang siap menyongsong mati syahid. Perang Teluk sekaligus juga telah membuktikan mereka sebagai umat yang besar, umat yang memiiki “kesanggupan sendiri” untuk menenegakkan kembali kemuliaannya, untuk mengembalikan posisinya dalam wujud negara adidaya yang patut diperhitungkan dalam konstelasi politik internasional,  bayangkan dengan potensi jumlah penduduknya yang lebih dari 1,5 milyar jiwa sangatlah layak untuk turut menentukan den mempengaruhi arah politik intemnasional. Itulah sebabnya, pada saat bangsa-bangsa Barat menuntut negaranya untuk segera menghentikan perang dengan mengibarkan slogan, “Minyak tak sebanding dengan darah,” ternyata hangsa-bangsa di Dunia Islam justru keluar ke jalan-jalan raya untuk menyatakan dirinya kepada pemerintahnya dan kepada seluruh dunia sebagai umat jihad. Karena itu, siapa sesungguhnya yang layak mendapatkan kemuliaan pada saat peluang antara mati dan hidup sama-sama ada dalam sebuah kancah pergolakan; untuk mereka yang mencari mati ataukah untuk mereka yang mencari hidup?

 

presiden AS George Bush tahu persia apa sesungguhnya yang bargejolak pada masyarakat di Dunia Islam. Karena itulah, ia segera mengambil langkah-langkah berikut ini dengan segala sarana dan cara untuk memutuskan status Irak dan hubugannya dengan Dunia Islam:

 

1) Bush secara langsung/pribadi mengingatkan kaum Muslim bahwa sesungguhnya Saddam adalah pengikut Partai Ba’ats (yang sosialis) bukan seorang Muslim sejati, dan ia adalah penjahat perang yang harus di hukum mati.

 

2) Fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh para ulama—yang menjadi budak-budak Amerika – dikawasan Teluk yang sengaja memisahkan label-label islam dan rejim Ba’ats yang berkuasa di Irak, bahkan dalam kasus perang antara Hizbullah dan Israel, kaum hizbullah jauh lebih berbahaya ketimbang kakufuran yahudi (itulah salah satu dari beberapa fatwa para ulama su’)

 

3) Mengikut sertakan sebagian tentara dan kaum Muslim untuk bergabung dengan Amerika dan sekutunya dalam peperangan melawan irak, dengan  dalih pasukan penjaga perdamaian.

 

4) Sangat menjaga agar israel berada pada posisi netral dengan segala cara dan sarana.

 

Inilah yang dilakukan oleh barat dalam menggiring opini mereka menjadi opini umum di dunia Islam, sekarang tinggal tugas besar kita mengarahkan opini umat Islam dengan menjadikan qadhiyah mashiriyah syarikah sebagai qadhiyah mashiriyah umat Muslim seluruh dunia umumnya dan di Indonesia khususnya, betapa terlihat mulai nampak wa’yun am (kesadaran umum) masyarakat Indonesia  telah lahir dengan bentuk respon dan dukungan terhadap agenda Konferensi Khilafah Internasional, tinggal bagaimana merubah wa’yun am tadi menjadi ra’yul am…

 

Allahu muwaafiq ilaa aqwaamitthariiq.

Nashru minallahu wa fathun qariib.