IMAN KEPADA KITABULLAH

Seorang muslim beriman dan yakin kepada segala hal yang diturunkan dan diwahyukan oleh Allah SWT, berupa kitab dan apa yang difirmankan-Nya ke- pada beberapa rasul berupa shuhuf (lembaran).
Kitab-kitab yang berasal dari Allah SWT ada empat macam, yaitu Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, Taurat kepada Nabi Musa as, Zabur kepada Nabi Daud as, dan Injil bagi hamba Allah dan rasul-Nya, Isa as. Sementara itu, firman Allah SWT dalam bentuk shuhuf, misalnya adalah apa yang diberikan Allah kepada Nabi Ibrahim as.
Di antara kitab tersebut, hanya Al-Qur’an yang dipelihara/dijaga keasliaannya oleh Allah dan sekaligus berfungsi sebagai penyempurna dan penghapus syari’at-syari’at nabi dan rasul sebelumnya. Allah SWT berfirman :

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an. Dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. (QS. Al-Hijr 9).

“(Dan) Kami telah menurunkan Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membe- narkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang turun sebelumnya) dan sebagai standar terhadap kitab-kitab tersebut. Maka, putuskanlah perkara mereka menurut (Al-Qur’an) yang diturunkan Allah dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran (Al-Qur’an) yang telah datang kepada- mu.” (QS. Al-Maidah 48).

Beriman kepada kitab-kitab Allah mempunyai sandaran yang berasal dari pemahaman dalil aqli dan naqli. Adapun me-ngenai penjelasan dalil-dalil tersebut, maka Al-Qur’an adalah kitab yang berbeda dengan kitab-kitab lainnya. Secara faktual/nyata, Al-Qur’an merupakan suatu kenyataan yang bisa dijangkau panca indra dan akal, dapat difikirkan atau dibuktikan (kebenarannya).
Tidak demikian halnya dengan kitab-kitab samawi lainnya. Kitab-kitab tersebut, faktanya sudah tidak ada, sehingga akal tidak mampu membahas dan membuktikan kebenarannya (bahwa kitab itu berasal dari Allah–red). Sebab, kitab-kitab tersebut tidak me-ngandung mukjizat yang bisa dijangkau akal manusia pada setiap manusia (terutama pada zaman kini). Juga, Nabi yang membawanya tidak menjadikannya (Taurat, Zabur atau Injil ) sebagai bukti tentang kenabiannya. Walaupun demikian, kita wajib meyakini bahwa kitab-kitab tersebut pernah diwahyukan kepada nabi-nabi dan rasul-rasul terdahulu.
Karena itu, dalil keimanan terhadap kitab-kitab selain Al-Quran, adalah dalil naqli, yakni berdasar penunjukan oleh Al-Qur’an dan hadits rasul yang pasti, seperti firman-Nya:

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab-kitab yang Allah telah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah telah turunkan sebelumnya. Siapa saja yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dari hari kiamat, maka sesungguhnya orang-orang tersebut telah sesat sejauh-jauhnya” (QS. An- Nisaa’ 136).

Adapun dalil yang menunjukkan bahwa Al-Qur’an telah diwahyukan Allah SWT kepada nabi dan rasul-Nya, Muhammad SAW, melalui malaikat Jibril as, adalah berdasarkan dalil aqli, yaitu dengan pembuktian dari segi ketinggian bahasa (Al-Qur’an) dan isi yang dikandungnya. Kedua hal ini telah menunjukkan suatu mukjizat yang amat menakjubkan dan besar; sekaligus membuktikan bahwa Al-Quran bukan hasil karya seorang manusia.
Bahkan untuk itu, Rasulullah SAW telah menantang kaum Quraisy dan orang-orang Arab untuk menandingi Al-Qur’an. Sebab, beliau yakin bahwa kitab tersebut adalah sebagai satu-satunya mukjizat terbesar sekaligus bukti kenabiannya sebagai utusan Allah. Beliau tidak perlu lagi memperlihatkan mukjizat lainnya, meski kaum Quraisy meminta bukti (mukjizat) selain Al-Qur’an itu. Hal itu diabadikan di dalam surat Al-Ankabuut 50-51 :

“(Dan) Orang-orang Makkah berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya mukjizat-mukjizat (benda lainnya) dari Rabb-Nya?”. Katakanlah (Hai Muhammad) : “Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya aku ini hanya seorang pemberi peringatan yang nyata” (QS Al-Ankabuut 50-51)

Setiap orang yang memiliki pengetahuan walaupun sedikit tentang bahasa dan sastra Arab serta seluk beluknya, akan menemukan bahwa Al-Qur’an merupakan bentuk ungkapan bahasa yang istimewa dan belum pernah ada orang-orang Arab yang mengungkapkan perkataan seperti itu, baik sebelum turunnya Al-Qur’an maupun sesudahnya.
Kehebatan Al-Qur’an dengan segala aspeknya telah menyebabkan mereka ‘tersungkur’ mengakuinya, dan bantahan apapun menjadi patah. Tantangan tersebut telah menye- babkan mereka terdorong untuk mencoba berbicara atau membuat seperti Al-Qur’an. Tetapi yang terjadi, ternyata sungguh mengherankan; untuk meniru apalagi mengubah gaya bahasa Al-Qur’anpun mereka tidak mampu, padahal mereka adalah orang-orang Arab yang terkenal fasih dibidang sastra dan berbicara (syair, puisi) Tetapi memang sudah sepatutnya mereka kalah dan mengakui kebenaran Muhammad SAW, sebagaimana tercantum dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya Kami tahu bahwa apa yang mereka katakan itu menyedihkanmu, (tetapi janganlah bersedih) karena mereka sebenarnya bukan mendustakanmu, akan tetapi orang-orang dzalim itu telah mengingkari ayat-ayat Allah” (QS Al-An’aam 33)

Sejarah pun mencatat kekalahan itu secara meyakinkan, yakni bahwa orang-orang Arab telah gagal meniru, dan tidak mampu menelurkan satu perkataanpun yang senilai dengan Al-Qur’an, meskipun Al-Qur’an telah menantang mereka. Al-Qur’an sendiri menegaskan :

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur’an ini, pasti mereka tidak dapat membuat yang serupa, sekalipun seluruh dari mereka membantunya” (QS Al-Israa’ 88).

Berdasarkan kepastian di atas kaum Quraisy dan bangsa Arabpun tidak mampu membuat satu ayatpun serupa Al-Qur’an, yakinlah kita bahwa Al-Qur’an terbukti berasal dari Allah dan merupakan kalamullah.
Keyakinan dan bukti itu menyebabkan orang-orang tidak bisa menuduh Al-Qur’an adalah perkataan Muhammad SAW, walaupun Beliau adalah orang Arab. Sebab bila orang Arab sendiri tidak mampu menandingi Al-Qur’an, maka Beliaupun sama, tidak mampu seperti halnya orang Arab yang lain. Dan bagaimana mungkin Al-Qur’an diciptakan oleh Beliau, padahal ia nabi yang buta huruf (ummi), bahkan Al-Qur’an mengandung kabar masa depan dan sains teknologi yang baru diungkapkan manusia pada abad ini? Bagaimana mungkin ia dikarang oleh Muhammad SAW, sedangkan dia sering menunggu datangnya Al-Wahyu jika menghadapi suatu persoalan? Dalam masalah ini Imam Syafi’iy berkata ) :

“Mukjizat Nabi Muhammad SAW itu amat banyak dan tak mungkin dapat dihimpun seluruhnya oleh buku ringkas ini. Yang penting kami kemukakan di sini adalah tentang Al-Qur’an. Al-Qur’an merupakan mukjizat paling tinggi yang tidak bisa dipungkiri atau diselewengkan oleh siapapun. Ia merupakan mukjizat terbesar diantara mukjizat-mukjizat lainnya dan yang paling ampuh untuk menaklukkan orang-orang yang ingkar terhadap kenabian beliau. Pernyataan seperti ini kita temukan dalam firman Allah sendiri. Al-Qur’an memiliki sajak yang berbeda dengan sya’ir-sya’ir yang ada, berbeda dengan isi pidato-pidato, ucapan dan karangan yang tertulis manapun. Ia menantang semua orang dengan QS.Al-Isra’ ayat 88”.

Kemudian tantangan itu semakin tegas dengan mengatakan:

“Maka, datangkanlah satu surat saja yang serupa dengannya”

Ternyata mereka tidak sanggup menjawab tantangan tersebut, meski bahasa Al-Qur’an adalah bahasa mereka (bahasa Arab). Padahal tantangan itu jauh lebih mudah dibandingkan dengan menentangnya, atau mengeluarkan harta dan menyerahkan jiwa. Tetapi tidak satupun surat yang muncul sebagai tandingannya, meski hanya sebuah surat yang paling pendek. Padahal jumlah kaum kafir yang memusuhi Islam begitu banyaknya. Hal ini membuktikan bahwa Al-Qur’an itu mukjizat bagi kenabian Muhammad SAW”.
Kitab suci yang jelas ini dan merupakan wahyu Allah, telah mampu mengadakan revolusi mental dan sosial serta mengubah dan menuntun pemikiran manusia selama empat belas abad. Ia juga telah mengubah wajah sejarah manusia dan membangun suatu ummat yang lemah menjadi perkasa, menerangi mereka dari jalan sesat ke jalan lurus dan menyatu-padukan barisan yang tadinya cerai berai. De-ngan karunia Allah dan petunjuk Al-Qur’an, terwujudlah kesatuan ummat di bawah undang-undang yang menegakkan hukum dan keadilan di muka bumi ini. Ia juga menjadi penuntun bagi ummat dan menjadi misi universal sebagai puncak mahkota keagungan peradaban manusia.
Dengan Al-Qur’an, Nabi SAW telah membangkitkan taraf pemikiran bangsa Arab yang tadinya tenggelam dan terpecah belah dalam fanatisme jahiliyah, buta huruf dan hidup dalam budaya berhala yang nista, kearah kehidupan yang gilang gemilang. Beliau menyembuhkan lalu menyatukan mereka dengan Al-Qur’an dan perkataan yang penuh hikmah.
Ajaran-ajaran yang tercantum di dalam Al-Qur’an dan umat yang telah menerimanya sebagai ajaran kehidupan, ternyata telah mampu mengangkat umat lain, baik yang masih terbelakang maupun yang telah maju per- adabannya. Padahal kalau ditilik dari sejarahnya, dahulunya masih banyak yang buta huruf, tidak