IMAN KEPADA MALAIKAT

Iman kepada malaikat berdasarkan da-lil naqli; sebab akal tidak pernah mampu menjangkau eksistensi/keberadaan ma-laikat. Dalil syara’ tentang adanya ma-laikat berasal dari Al-Qur’an dan sunnah Rasul, diantaranya adalah firman Allah SWT :

“Allah telah terangkan bahwasanya tidak ada Ilah selain Dia, Yang menegakkan keadilan dan disaksikan oleh para malaikat dan ahli-ahli ilmu. Tidak ada Ilah selain Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana”
(QS Ali Imran 180)

“Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah (sungguh-sungguh) kepada Allah dan RasulNya dan (kepada) kitab yang diturunkan kepada RasulNya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. (ketahuilah bahwa) siapa saja kafir terhadap Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya” (QS An-Nisa’ 136).

Malaikat dan Asal Usul Kejadiannya

Malaikat diciptakan Allah sebelum jin, manusia dan alam semesta. Adapun asal kejadian mereka, sesungguhnya Al-Qur’an tidak merincikannya. Hal tersebut dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa malaikat itu dijadikan dari cahaya (nur), tanpa menerangkan bagaimana karakteristik (bentuk) cahaya (nur) tersebut. Oleh karena itu, dzat malaikat yang sebenarnya tidak mungkin dapat dijangkau akal, karena ia berada di luar jangkauan panca indera dan akal manusia. Tetapi wujudnya pasti, yang menurut penjelasan Al-Qur’an, mereka berada di langit dan di bumi dan saling berpindah tempat diantara keduanya.

Tugas-Tugas Malaikat

Al-Qur’an dan sunnah Rasul telah menunjukkan berbagai tugas malaikat yang bekerja menurut perintah dan seidzin Allah untuk mengatur apa yang ada di langit dan bumi serta apa yang ada dan terjadi diantara keduanya. Misalnya, ada yang ditugaskan untuk mengatur peredaran matahari, bulan dan bintang, mengatur peredaran awan dan turunnya hujan, mengatur terjadinya proses pembentukan janin di dalam rahim. Ada pula yang ditugaskan untuk menjaga dan mengawasi setiap manusia, menghitung dan menulis amal usaha manusia. Selain itu, ada pula yang ditugaskan untuk mencabut nyawa, bertugas di jahannam dan jannah, dan tugas-tugas lainnya. Jadi, para malaikat adalah tentara Allah yang paling banyak dari segi kuantitas dan paling banyak dari segi tugas-tugasnya. Inilah tentara yang paling agung. Sebab merekalah yang mengatur alam semesta dengan idzin Allah. )

Pendapat Ibnu Qayyim Al-Jauziyah: )

Tentang tugas-tugas malaikat, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan :

“Allah telah mewakilkan para malaikat untuk mengatur langit dan bumi. Mereka (para malaikat itu) bekerja dengan seidzin dan atas perintah Allah SWT. Oleh karena itu, Allah SWT di dalam Al-Qur’an kadang menyebutkan bahwa pengaturan tersebut diserahkan kepada malaikat, seperti firman-Nya:

“Demi para malaikat yang mengatur urusan alam” (QS An Nazi’aat 5)

Atau terkadang tugas-tugas pengaturan seperti itu dikaitkan (tersangkut langsung) terhadap Allah, seperti firman-Nya:

“Sesungguhnya Rabbmu adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian ia bersemayam di atas Arsy untuk mengatur segala urusannya” (QS Yunus 3).

Juga perhatikan firman-Nya yang lain:

“Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Dan siapakah yang mengatur segala urusan? Maka mereka akan menjawab: ‘Allah’. Maka, katakanlah: ‘Me-ngapa kalian tidak bertaqwa (kepada-Nya)?” (QS Yunus 31)

Jadi, Allahlah pengatur alam ini dengan perintah (idzin) dan kehendakNya, sedangkan malaikat mengatur alam ini hanya menjalankan atau melaksanakan perintah saja. Perhatikan firman Allah SWT:

Sehingga bila datang kematian pada salah seorang diantaramu, lalu utusan-utusan Kami mewafatkannya, sedangkan para utusan (malaikat Kami) itu tidak (pernah) lengah” (QS Al An’aam 61)

Ibnu Qayyim lebih lanjut menjelaskan:
“Sesungguhnya para malaikat yang bertugas dengan idzin Allah untuk mengatur urusan manusia sejak terjadinya proses pembuahan di dalam kandungan, sampai matinya manusia. Merekalah yang ditugaskan untuk memproses dan mengembangkannya tahap demi tahap sampai kepada bentuk manusia yang sempurna. Mereka jugalah yang menjaga ketika janin itu masih berada dalam tiga lapisan (Chorion, alantoin, dan amnion) di dalam kandungan. Mereka yang mencatat rezekinya, amal, ajal, sengsara, bahagia dan mengikuti manusia dalam setiap keadaan, serta mencatat perkataan dan perbuatannya. Mereka melindunginya sewaktu manusia hidup dan mencabut nyawanya serta menghantarkan nyawa itu kembali kepada Allah yang menciptakan-nya.
Kitabullah dan sunnah menyebutkan jenis malaikat yang ditugaskan mengatur urusan makhluk-makhluk yang diciptakan. Allah telah menugaskan sebagian malaikat-Nya untuk membawa awan dan menurunkan hujan. Jadi malaikat adalah tentara Allah yang paling agung”.
Beliau menyebutkan ayat-ayat Al-Qur’an mengenai hal ini (baca QS Al-Mursalat 1-5; An-Nazi’at 1-5;Ash-Shaffat 1-3). )

Tingkatan, Tugas dan Wewenang diantara Malaikat

Mengenai tingkatan, tugas dan wewenangnya, Al-Qur’an menyebutkannya sebagai berikut :
Malaikat Jibril adalah pimpinan umum dan sangat terkemuka diantara mereka. Dialah utusan Allah bagi seluruh nabi dan rasul untuk menyampaikan wahyu dan petunjuk lainnya. Ia sangat perkasa, punya kekuatan yang luar biasa seperti mengarungi angkasa yang maha luas hingga “Sidratul Muntaha” (berada di langit ke tujuh) sampai kembali ke bumi ketika memimpin dan menuntun perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Ia dipatuhi oleh bawahannya, pemimpin yang bijaksana dan sangat dipercaya Allah SWT. Hal tersebut sesuai de-ngan firman Allah :

” Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar firman Allah yang dibawa oleh utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah, pemilik ‘Arsy, yang ditaati di sana (alam malaikat) lagi dipercaya” (QS At-Takwir 19-21).

Malaikat yang diserahi tugas mengatur pembagian rezeki semua makhluk di seluruh alam adalah Malaikat Mikail;seperti diterangkan dalam sebuah hadits riwayat Thabrani dan Baihaqi ) dengan sanad yang hasan:

“Ketika Rasulullah bertanya kepada Jibril, apa tugas malaikat Mikail? Jibril menjawab: (Ia ditugaskan untuk mengatur) tumbuh-tumbuhan dan hujan”

Malaikat Israfil ditugaskan meniup sangkakala (ashshur). Ia senantiasa meletakkan mulutnya pada tempat peniupan sangkakala, sebagai tindakan berjaga-jaga jika mendadak ada perintah dari Allah. Beginilah contoh kepatuhan para malaikat kepada Allah. Entah berapa juta tahun keadaan seperti demikian, namun ia tetap setia kepada tugasnya. Peniupan sangkakala itu dilakukan dua kali, seperti yang diceritakan dalam ayat Al-Qur’an:
“(Dan) ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa saja yang berada di langit dan bumi kecuali yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing)” (QS Az-Zumar 68).

Malaikat yang bertugas mencabut nyawa (roh) makhluk hidup (bila telah tiba ajalnya), adalah Izrail; seperti ditegaskan Al-Qur’an:

“Katakanlah: Malaikat maut yang di-serahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu. Maka hanya kepada Rabbmu kamu pasti dikembalikan” (QS As Sajadah 11)

Keterangan-keterangan lain didapat dari Al-Qur’an dan sunnah, antara lain:

“(Yaitu) ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya (Raqib-Atid), seorang duduk di kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (QS Qaaf 17-18).

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri dan keluargamu dari api jahannam yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu (berhala); penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang di-perintahkan” (QS At-Tahrim 6).

Iman kepada malaikat, meskipun berdasarkan kepada dalil naqli, namun pada hakekatnya, keberadaannya wajib diyakini karena penukilannya bersumber dari sesuatu yang secara akal sudah dipastikan kebenarannya, yakni Al-Quran dan As-Sunnah.
Dengan keimanan yang utuh terhadap malaikat, seorang Muslim akan berhati-hati dalam berbuat, karena ia yakin sang malaikat akan senantiasa mencatat amal baik dan buruk nya. Selain itu iapun akan lebih berani dan optimis dalam mengarungi kehidupan, khususnya dalam mengemban dakwah, karena ia yakin selalu “dikawal” oleh tentara Allah yang perkasa, yakni para malaikat.