AKHLAQ ADALAH PERINTAH SYARA’

Dari segi bahasa, Khuluq (kata dasar akhlaq) berarti sifat yang senantiasa nampak pada tingkah laku dan telah menjadi tabi’at,sebagaimana firman Allah SWT :

“(Dien kami) ini tidak lain hanyalah adat kebia- saan orang dahulau” (QS Asy Syu’araa 137).

Maksud kata khuluq dalam ayat ini adalah tabi’at manusia dahulu dengan adat istiadatnya. Apabila tingkah lakunya baik maka dikatakan khuluqnya baik, begitu pula sebalik- nya bila tingkah lakunya buruk maka khuluqnya buruk. Tetapi menurut syara’, khuluq artinya Diin, sebagaiman firman-Nya:

“Dan sesunguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (Qs Al-Qalam 4)

Maksud kalimah khuluq disini adalah Diin yang mulia, disebabkan seruan ayat ini menunjukkan arti khuluq sebagai Din. Firman Allah SWT :

“Nun. Demi qalam dan apa yang merka tulis, berkat nikmat Rabbmu, kamu (muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Dan seungyguhnya bagi kamu benar-benar pahal yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. Maka kelak kamu akan melihat. Dan mereka (orang- orang kafir)pun melihat siapa diantara kamu yang gila ” (QS Al-Qalam 1-6).

Dalam pembahasan ini mereka menganggap bahwa risalah yang disampaikan oleh Rasulullah SAW adalah ‘gila’. Yang menjadi masalah (bagi kaum kafir Mekkah) sebenarnya adalah Din/ajaran yang dibawa oleh Rasul, dan bukanlah sifat (tingkah laku) Nabi itu sendiri (yang bertabiat baik, terpercaya,dsb)’ karena sebelum beliau diutus menjadi nabi pun orang-orang Quraisy telah mengakui bahwa beliau adalah orang yang baik akhlaq (tingkah laku)nya sehingga beliau diberi gelar Al-Amin (yang dipercaya). Oleh karena itu, arti khuluq dalam ayat ini adalah Din/agama. Hal ini sesuai dengan penjelasan dalan tafsir Al-Jalalain.

Berbicara tentang akhlak memang berbicara tentang tingkah laku, perangai, budi pekerti atau moral. Akhlak juga merupakan per- wujudan dari pemahaman seseorang tentang tingkah laku. Masyarakat Barat yang bebas dan sekuler memiliki tingkah laku yang terbebas dari berbagai aturan karena pemahaman mereka tentang kehidupan memang seperti itu. Kondisi tersebut tentu sangat berbeda dengan kondisi masyarakat Islam yang segala pikiran dan tingkah lakunya selalu terkait dengan hukum syara’ (Syariat Islam).
Hanya saja, harus dipahami bahwa pandangan Islam tentang ‘akhlak’ memang ber- sifat khas, berbeda dengan pandangan masya- rakat umumnya. Perbedaan itu dapat dipahami dari beberapa konsep berikut ini.

1.Islam tidak hanya memahami akhlak dari segi tingkah laku dan sifat moral belaka, tetapi akhlak merupakan salah satu dari berbagai hukum Islam. Artinya, ada hukum Allah yang berkait dengan ibadah, (seperti shalat, shaum, zakat, haji dsb.); ada hukum yang berkait dengan muamalah (seperti pernikahan, jual beli, syirkah, dsb.) dan ada pula hukum ten- tang sifat-sifat tingkah laku (yakni akhlak).

2.Islam menentukan bahwa akhlak (yang baik atau buruk) tidak bisa ditentukan oleh manusia sesuai realitas, perkembangan zaman, mau- pun suara mayoritas manusia semata. Ini tentu berbeda dengan konsep moral dalam masya- rakat sekarang, yang sangat dipengaruhi oleh hal-hal tersebut. Akhlaq merupakan bagian dari hukum syara’ yang bersifat tetap, memiliki nash dari sumber hukum Islam, wajib dilak- sanakan oleh orang yang beriman sebagai wujud ketaatan kepada Allah SWT.

3.Sebagaimana aturan peribadahan,maka pelak- sanaan aturan akhlak ini pun hanya bertujuan untuk mendapat keridhoan Allah SWT, bukan sebatas untuk ketinggian moralitas semata, dan bukan untuk mendapat gelaran-gelaran manusiawi semata.

4. Karena akhlak merupakan ketentuan Allah SWT maka adakalanya manusia menganggap suatu akhlak itu baik (memberi kemaslahatan) padahal tingkah laku tersebut dibenci Allah SWT; atau sebaliknya.Misalnya bersikap tegas dan keras terhadap orang kafir, tidak iba terhadap orang pelaku kejahatan, berbohong dalam beberapa kondisi, dsb.

Ayat-ayat Al-Quran dan hadits-hadits Rasulullah banyak yang mendorong manusia agar memiliki sifat yang baik dan melarang manusia berakhlaq buruk. Nash-nash syara’ bahkan menjelaskan sifat-sifat terpuji semisal jujur, amanah, iffah, menepati janji dsb. Walau- pun semua itu merupakan akhlaq yang baik, nash-nash syara juga menegaskan bahkan hal- hal tersebut sebagai suatu hukum. Bahkan harus dilihat sebagai sebuah hukum syara (bukan hanya sebagai sebuah penjelasan tentang sifat yang baik/buruk semata). Orang- orang yang memiki akhlaq yang baik haruslah dinilai sebagai pelaksanaan perintah Allah SWT. Kita tidak boleh melihatnya hanya sebagai sifat-sifat moral, karena seorang muslim telah diperintahkan untuk melaksanakan hukum- hukum syara walaupun hukum-hukum itu berupa akhlaq/ tingkah laku. Seorang muslim tidak diperintahkan untuk hanya memiliki sifat-sifat moral semata. Hal ini disebabkan karena ukuran baik dan buruk hanya dinilai berdasarkan nash-nash syara semata.
Allah SWT memerintahkan bersifat jujur dan melarang bersifat dusta, bukan hanya berdasar karena sifat-sifat itu patut dicontoh, tetapi karena hal itu sudah merupakan hukum syara. Sebagai bukti penguatnya adalah bahwa Allah SWT melarang seorang Muslim ‘berbo- hong’, namun Allah SWT membolehkan kita ‘berbohong’ di medan perang. Jadi ‘berbohong’ disini merupakan sebuah hukum syara. Allah pun memerintahkan bersikap keras terhadap orang kafir dan melarang seorang hakim mus- lim untuk merasa iba atau kasihan terhadap seorang pelaku pidana. Seandainya perintah Allah SWT, seperti berlaku jujur, melarang dusta, dsb. hanya semata-mata untuk tujuan sifat khuluq/perilaku semata, maka berarti hukum dusta ini merupakan suatu hal yang tidak akan berubah dalam berbagai keadaan bagaimanapun. Namun demikian, karena hal itu termasuk bagian dari hukum syara’ maka semua itu harus dilihat dari segi pelaksanaan perintah Allah SWT. Jadi syara telah mene- tapkan hukum berdusta dalam keadaan tertentu haram dan dalam keadaan lain diperbolehkan.
Karena itu, hukum-hukum syara’ tidak boleh dijadikan hanya sekedar diambil sifat akhlaqnya saja (segi manfaatnya), melainkan harus diperlakukan sebagai sebuah perintah hukum. Dengan kata lain perlu ditekankan bahwa ajakan kepada manusia untuk berakhlaq bukan hanya karena sifatnya saja, tetapi justeru harus ditekankan bahwa hal itu termasuk bagiandari hukum syara’.
Apabila seorang muslim bersikap jujur hanya semata-mata karena sifat jujur tersebut, maka ia tidak akan mendapat ganjaran/pahala atas perbuatannya. Hal itu karena ia menger- jakannya bukan berdasarkan hukum syara tetapi hanya karena anggapan bahwa sifat jujur tersebut dianggap memiliki kebaikan atau manfaat baginya.
Kaum muslimin perlu berhati-hati melakukan perbuatan dan tatkala mengajak orang lain agar berakhlaq mulia. Sebab bila mereka lalai dan tidak memperhatikan hal ini maka mereka tidak dianggap melaksanakan hukum syara’. Lebih dari itu, hal ini dapat men- jadikan perbuatan mereka sama dengan orang kafir, karena orang-orang kafirpun mengajak bersikap baik dan mereka menjalankan sifat- sifat yang dianggapnya luhur walaupun sudut pandang dan motivasinya berbeda-beda. Atau bisa juga mereka orang-orang kafir) hanya melihat sesuatu sifat dari segi manfaatnya semata. Karenanya, hendaknya kaum muslimin memiliki akhlaq yang mulia hanya karena dilandasi oleh keyakinan bahwa sifat-sifat akhlaqiyah, merupakan perintah dan larangan Allah SWT.

Beberapa Contoh Akhlaq yang Mulia
Al-Quran dan As-Sunnah telah banyak menggambarkan berbagai sifat akhlaqiyah yang harus menjadi panutan seorang Muslim; yang diantaranya :

1. Jujur dan menjauhi sifat dengki (hasad)
Rasulullah SAW bersabda :

“Sesungguhnya kejujuran akan membawa kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan itu akan mengantarkannya ke surga. Dan seseorang yang senantiasa berkata benar dan jujur akan tercatat disisi Allah sebagai orang yang benar dan jujur. Dan sesungguhnya dusta itu membawa kepada kejahatan yang akhirnya akan mengantarkannya ke neraka. Dan seseorang yang senantiasa berdusta, akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta” (HR. Bukhari-Muslim).

“Hati-hatilah kamu sekalian terhadap hasad, karena sesungguhnya hasad akan memakan seluruh kebaikan sebagaimana api yang melahap habis kayu bakar” (HR. Abu Dawud).

2. Menepati Janji

Allah SWT berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah ikatan0ikatan perjanjian itu” (QS. Al-Maidah : 1).
Ayat senada juga dapat dilihat pada QS.Al-Isra:34 dan An-Nahl:91.
Rasulullah SAW bersabda :

“Ciri-ciri orang munafik itu ada tiga :jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari dan jika diberi amanat ia berkhianat” (HR.Muttafaq ‘Alaih)

3. Suka Memaafkan
Allah SWT berfirman :

“..(Orang bertaqwa itu adalah) orang-oran yang menahan amarahnya serta memaafkan orang lain. Allah mencintai orang- orang yang berbuat kebajikan” (QS Ali Imran : 134).
Ayat senada dapat dilihat pada QS.Asy-Syura:39-40, An-Nur:22, Al-Fushilat: 34-35, dan Al-A’raf: 199.
Dalam sebuah hadist digambarkan bahwa suatu ketika Uqbah bin Amir bertanya kepada Rasulullah SAW : beritahu aku tentang keutamaan amal seseorang? Rasulullah SAW menjawab :

“Wahai Uqbah, hubungkanlah kembali tali persaudaraan kepada siapa yang telah memutus- kannya. Kasihilah orang yang telah membencimu. Berpalinglah dari yang menzhalimimu” Dalam riwayat lain: “Berilah maaf kepada mereka yang menzhalimimu” (HR. Ahmad dan Thabrani).

4. Menjauhi Hal Yang Tidak Bermanfaat

Rasulullah SAW bersabda :

“Sesungguhnya setengah dari kebaikan Islam seseorang adalah ia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya” (HR.Malik, Ahmad, Thabrani)

5. Menjauhi Perbuatan Menggunjing dan Adu Domba

Allah SWT berfirman :
” .. dan janganlah sebagian dari kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang kamu memakan daging saudara sendiri yang telah mati ? Maka tentu kamu merasa jijik akan hal itu” (QS.Al-Hujurat : 12)

Rasulullah SAW juga bersabda :

“Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba” (HR. Muttafaq alaih)

6. Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Rasulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya pada orang-orang kalangan Bani Israil, apabila salah seorang dari mereka melakukan kesalahan (dosa), maka orang lain tidak mencegahnya. Sehingga pada pagi harinya mereka duduk, makan dan minum seolah mereka tidak pernah melihat perbuatan dosa yang kemarin dilakukan. Melihat kondisi mereka Allah mensifati hati mereka melalui lisan Daud dan Isa ibnu Maryam dengan mengatakan : ‘Demikianlah itu terjadi karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas'(QS Al-Baqarah : 61). Demi zat yang jiwaku ada dalam kekuasaanNya, sungguh telah diperin- tahkan atasmu beramar ma’ruf nahi munkar, mencabut kekuasaan orang jahat dan melu- ruskannya pada kebenaran, atau (bila tidak demikian) Dia akan mencampakkan hatimu dan mengutukmu sebagaimana Ia mengutuk mereka (Bani Isaril)”. (HR Thabrani)

7. Menghormati Tamu

Rasulullah SAW bersabda :
“Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakanlah tamunya…. Para Shahabat bertanya: ‘Selebihnya itu apa yaa Rasulullah?’ Jawab Beliau : ‘Siang dan malamnya serta menjamu tamu selama tiga hari. Maka batas di luar itu termasuk sedekah” (HR Muttafaq ‘alaih)

8. Menyebarkan Salam

Allah SWT berfirman :

” Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian masuk ke dalam rumah orang lain sehingga kalian mendapat izin dan mengucapkan salam kepada penghuninya” (QS An Nur : 27)

Juga sabda Rasulullah SAW :
“Apakah kalian mau aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan akan mendapatkan jalinan cinta kasih? Yaitu sebarkanlah salam diantara kalian” (HR Muslim)
Salah seorang shahabat, Abdullah bin Umar, sering berkeliling di pasar. Suatu hari seseorang datang dan bertanya kepadanya. ‘Apa yang anda lakukan di pasar? Anda bukan seorang pedagang, tidak juga membeli dagangan. anda juga tidak duduk dalam kepengurusan pasar, tetapi mengapa Anda sering berada di pasar?’ Ibnu Umar menjawab :’ Aku sengaja setiap pagi ke pasar hanya untuk mengucalkan salam kepada Muslim yang aku temui” (HR Bukhari)

Demikianlah beberapa penjelasan ringkas tentang posisi akhlak dalam hukum Islam dan beberapa contoh akhlak yang diperintahkan Islam. Tentu masih banyak contoh lain tentang akhlak yang terpuji dan tercela dalam pandangan Islam, yang dapat dipahami dalam berbagai kitab tentang akhlak..

*****